Postingan 1 - Bahaya Tawuran

 

Mengapa Tawuran Terus Terjadi di Jabodetabek?


1. Mengapa tawuran terus terjadi di Jabodetabek?

2. Bagaimana cara mengatasi tawuran yang kian marak?

3. Bagaimana dampak media sosial terhadap agresi sosial, termasuk tawuran?

4. Apakah ada upaya-upaya positif dari pemuda untuk keluar dari jerat tawuran?

Tawuran seolah menjadi persoalan yang tidak ada hentinya di Jabodetabek. Terbaru, tawuran antarkelompok terjadi di sekitar Pasar Gembrong, Jalan Basuki Rachmat, Jatinegara, Jakarta Timur, Sabtu (22/6/2024) subuh.Tak hanya sekali, tawuran juga terjadi pada Senin (17/6/2024) subuh. Dari dua peristiwa itu tidak ada korban luka atau jiwa. Tawuran berhenti dan pelaku tawuran melarikan diri setelah polisi dan TNI mendatangi lokasi.Baca juga: Tawuran di Jabodetabek Berkelindan dengan Masalah Ekonomi dan KeluargaPeristiwa tawuran juga terjadi di Jakarta Barat pada Sabtu (8/6/2024) sore di Jalan Kamal Raya, Tegal Alur, Kalideres. AP (14), yang saat itu merekam aksi tawuran turut menjadi korban. AP, yang mengalami luka di bagian kepala dan sempat mendapatkan perawatan intensif, akhirnya meninggal pada Jumat (14/6/2024). Adapun pelaku pemukulan, DMS (18), melarikan diri seusai tawuran, ke Banjarnegara, Jawa Tengah.Tawuran yang menyebabkan korban jiwa juga terjadi di Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat. MN (15), pelajar sekolah menengah atas di Kabupaten Bogor, mengalami luka di jari dan leher karena sabetan senjata tajam.Baca juga: Kala Remaja Bekasi Mencari Pengakuan di JalananSosiolog Universitas Negeri Jakarta, Rakhmat Hidayat, mengatakan, fenomena tawuran yang terjadi di kota-kota besar tidak mengenal waktu, lokasi, dan usia. Semuanya bisa terlibat dalam tawuran. Usia dewasa tidak menjamin untuk mengukur akal sehat, berpikir logis, hingga menakar dampak negatifnya.”Tawuran perlu dilihat lebih dalam ke masalah sosial, ekonomi, dan kultur lingkungan. Berbagai tekanan dan ekonomi bisa mendorong dan menciptakan konflik sosial. Mengatasi pengangguran di perkotaan bisa menjadi salah satu untuk menekan potensi konflik sosial, seperti tawuran,” ujar Rakhmat.Namun, menariknya, terkadang tawuran bisa terjadi tanpa alasan. Situasi kompleks ini membuat tawuran susah dikendalikan. Tawuran bisa terjadi tanpa diketahui pasti pemicunya.Baca juga: Tawuran Dua Kelompok Remaja di Tangerang, Satu Orang Luka BeratSebagai masalah yang kompleks, penyelesaian tawuran tidak bisa seperti memadamkan api atau hanya cukup deklarasi damai setelah pecah pertikaian antarwarga atau kelompok. Akar masalah tawuran harus ditemukan supaya terwujud program yang tepat sesuai dengan kebutuhan warga dan berkelanjutan. Dengan demikian, persoalan ini tidak menjadi bara dalam sekam yang bisa membesar sewaktu-waktu.Contohnya kajian sosiologis tawuran pemuda di Johar Baru oleh Linda Darmajanti, Paulus Wirutomo, Daisy Indira Yasmine, Evelyin Sulaiman, dan Ida Ruwaida dari Universitas Indonesia. Kajian ini kemudian terbit dalam buku berjudul ”Perang Tanpa Alasan” yang bekerja sama dengan Yayasan Pustaka Obor Indonesia tahun 2017.Dalam Bab 2 ”Kemiskinan, Eksklusi Sosial: Analisis Struktur-Kultur-Proses” disebutkan, studi awal tentang tawuran di Johar Baru oleh Paulus Wirutomo dkk tahun 2011 menunjukkan temuan menarik. Para remaja ataupun warga yang terlibat tawuran menyatakan penyebab tawuran tidak jelas.Baca juga: Tawuran Pelajar Terus Berulang dan Kian MeresahkanSecara sosiologis, temuan ini menstimulasi kajian lebih mendalam karena tawuran di daerah tergolong kumuh dan miskin itu justru memiliki penyebab ganda sehingga setiap individu yang terlibat tawuran sulit menjawab penyebab tawuran secara jelas. Kajian tersebut melihat kepadatan penduduk sebagai salah satu faktor mendasar. Luas lahan 238 hektar dengan 108.000 warga membuat setiap orang punya ruang gerak hanya 2,3 meter persegi.Penyebab tawuran yang kompleks pun tidak bisa didekati dengan satu strategi, tetapi perlu pendekatan holistik. Tawuran tidak bisa diatasi hanya dengan memadamkan api, tetapi perlu melihat akar persoalan masing-masing yang menjadi pemicunya. Sebab, pemicu tawuran bisa berbeda-beda.”Pendekatannya melalui kajian, bukan hanya memadamkan api. Kemudian, melibatkan partisipasi warga setempat. Memang sulit menghilangkan tawuran sampai nol, tetapi paling tidak meminimalkan tensinya, ketegangan, jadi lebih cair dan tak kaku,” kata Rakhmat.Baca juga: Puluhan Pelajar Diciduk Usai Tawuran Maut di TangerangDalam Bab 4 ”Merajut Harmoni Sosial” pada buku ”Perang Tanpa Alasan” dikatakan, sejak tahun 2011, penanganan konflik di Johar Baru menggunakan upaya intervensi terpadu dan lintas sektor. Bentuknya pelatihan keterampilan, menggiatkan pokdarkamtibmas, pengembangan kegiatan musik, dan lainnya.Namun, upaya tersebut belum optimal. Dalam kajian ini disarankan pembenahan konsep pembangunan, khususnya untuk kampung kumuh dengan pendekatan inklusif, pendekatan pendidikan melalui bidang seni, balai warga yang pemanfaatannya perlu dipikirkan bersama komunitas, jaminan perlindungan keamanan, dan birokrasi pemerintah yang kaku perlu dikombinasikan dengan pendekatan yang luwes, aspiratif, dinamis, dan kreatif.Baca juga: Tawuran Remaja dan Ruang Ekspresi yang SempitUpaya mengatasi tawuran juga kian menemui jalan terjal, terutama karena media sosial memberikan dampak yang besar.Tawuran antarpemuda di jalan layang Pasar Rebo, Jakarta Timur, Minggu (28/1/2024), misalnya, dipicu oleh provokasi di media sosial (medsos).Tawuran itu mengakibatkan pergelangan tangan PA (15) putus. Polisi menangkap pelaku, yakni SA (21 tahun), YA (23 tahun), G (19 tahun), dan ADD (16 tahun). Keempatnya diduga melakukan provokasi melalui medsos. Satu pelaku masih buron.Baca juga: Provokasi di Media Sosial yang Memicu Maraknya TawuranBerkembangnya teknologi informasi, salah satunya kemunculan berbagai platform media sosial, membuat aksi tawuran bisa di mana saja. Tawuran bahkan di luar kawasan rawan atau langganan lokasi tawuran. Akhir Desember 2023 lalu, misalnya, di Jalan Kramat Pulo Dalam II, Senen, terjadi tawuran maut.Untuk mengatasi dampak media sosial terhadap kerentanan kekerasan, kepolisian juga mulai mengaktifkan patrol siber.Baca juga: Geng Remaja di Tangsel Hindari Medsos untuk Rencanakan Aksi TawuranBerkembangnya konten di media sosial sebagai ruang ekspresi bagi para generasi muda, kata Rachmat, juga tak lepas dari ketimpangan sosial di masyarakat dalam hal pendidikan, pekerjaan, hingga ruang-ruang publik untuk saling berinteraksi dan berkreasi yang semakin sempit.Baca juga: Remaja Jakarta, Berawal dari Gim Daring Berakhir di Jeruji BesiNamun, bukan berarti tawuran tidak dapat dicegah. Ada inisiatif yang dilakukan oleh sejumlah kelompok untuk lepas dari jerat tawuran.Salah satunya ialah penyelenggaraan street boxing di Kelompok Penyanyi Jalanan Bulungan Boxing Camp, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (26/2/2023). Kegiatan itu diikuti anak-anak hingga profesional. Di antara mereka ada remaja-remaja yang baru menjajal olahraga ini sebagai pengalihan dari perilaku menyimpang, seperti tawuran.Muhammad Farhan (17) asal Pademangan, Jakarta Utara, menjadi salah satu dari puluhan peserta partai tinju jalanan yang diadakan dari pagi sampai sore hari ini. Sembari menunggu giliran tanding siang hari, ia bersama beberapa remaja lain terlebih dulu menonton pertandingan peserta lain sejak pukul 08.00 WIB.Baca juga: Kapok Ditahan karena Tawuran, Remaja Ini Memilih Ikut ”Street Boxing”Sejak bergabung dengan sasana tinju, ia selalu berlatih mulai dari Senin sampai Sabtu. Aktivitas hariannya pun menjadi terbatas pada sekolah, latihan, dan istirahat. Namun, hal itu tidak membuatnya terkekang. ”Semenjak saya ikut tinju, saya sudah jarang nongkrong. Pulang sekolah langsung latihan, lalu tidur,” ujarnya.Nongkrong, terlebih bersama teman di lingkungan tempat tinggalnya, justru sering membawanya pada dunia kekerasan jalanan. Pemuda di tempat tinggalnya kerap terlibat tawuran.Kegiatan street boxing telah dilakukan tiga kali sejak Juni 2022. Dua kegiatan sebelumnya dilangsungkan di Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat. Kegiatan ini ke depan akan dilaksanakan rutin sebulan sekali, terutama di lokasi anak-anak kerap berkumpul dan tawuran.Baca juga: Saluran Gairah Kreativitas Masa Remaja Solusi Tangkal Tawuran di Ibu KotaAjang kegiatan lain ialah dengan olahraga skateboard. Menyalurkan hobi berolahraga skateboard juga dilakoni PA (15), salah satu pemuda Ciracas, Jakarta Timur. Ia sering menjajal lintasan itu, bahkan tergolong mahir berseluncur di semua lintasan. Karena kemahirannya itu, ia pernah diundang untuk ikut kejuaraan di Bali. Sayangnya, sejak satu tahun yang lalu papan seluncurnya hilang. Hobinya itu pun terampas.Ironisnya, PA memilih untuk menyalurkan energinya ke arah yang negatif, yakni tawuran. Tawuran antardua kelompok pemuda itu pecah pada Minggu (28/1/2024). Lokasinya hanya 200 meter dari Taman Skate. PA pun kini menjadi satu dari empat pelaku yang ditangkap Polres Jakarta Timur.Baca juga: Mengikis Celurit Tawuran di Ibu Kota dengan Olahraga ”Skateboard”



ABSEN No:20.27 kompas.com


Comments

Popular posts from this blog

Postingan 2 - Bahaya Bullying

postinagn 3 - Bahaya Narkoba bagi Kesehatan Mental yang Perlu Anda Ketahui

pengalaman di mts 15jkt